Jebakan Budaya
Oleh SUNNY BOY BATUBARA
Maraknya teriakan nyaring karena rusaknya lingkungan hidup di Bali memunculkan wacana revitalisasi eksistensi penguatan komunitas, mendesakkan upaya mencari tahu apa faktor penyebab. Siang itu, sekitar pukul 10.00 WITA, di rumahnya di daerah Umalas, Kerobokan, Bali, wawancara dimulai. Kami menyebutnya “relax talking”, ngobrol sambil ditemani secangkir kopi. Sebelumnya dia menunjukkan bahwa pekarangan belakang rumahnya pun terkena imbas banjir kemarin, yang mana air meluap naik setinggi 16 sentimeter.
“Panggil saja Ian,” katanya. Ian Falk jadi narasumber karena dia punya latar belakang penelitian terkait sosiologi, capacity community building, dan management and organization effectiveness.
Berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup yang ada di Bali, dengan contoh nyatanya banjir, bagaimanakah pendapat Anda? Apakah ini faktor alam terkait curah hujan yang tinggi, atau lemahnya peran Pemerintah, ataukah masalah “human error”?
Dunia global saat ini sedang menghadapi global warming, dan ini bukan sekadar wacana, tetapi fakta. Dan Pemerintah bukanlah Tuhan, jadi kita tidak bisa berharap banyak. Saya juga melihat di masyarakat, informasi akan global warming masih belum tersampaikan. Saya punya pengalaman kunjungan dalam rangka penelitian. Sewaktu saya pergi ke daerah Pantai Lebih di selatan Kabupaten Gianyar guna melihat kondisi masyarakat di daerah setempat yang pemukimannya terkena “sambaran petir”, di sana saya melihat komunitas mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan pihak luar. Saya tidak hendak mengatakan Pemerintah perannya lemah, tetapi di sini saya melihat komunitas mempunyai semacam “self recovery” dalam merespon situasi. Ini hal yang menarik.
Terkait dengan penguatan komunitas, apakah punya pendapat?
Dari sisi pemerintah, saya rasa yang harus dilakukan terkait penyusunan program pemberdayaan yang bekerjasama dengan fasilitator-fasilitator pemberdayaan non-pemerintah yang fungsinya memfasilitasi dan biarkan komunitas menyusun kebutuhan-kebutuhannya sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Saya rasa program ini lebih efektif daripada program-program sosialisasi atau penyuluhan.
Apakah ada kendala lain selain hal-hal di atas? Dan seperti apa gambaran harapan Anda terkait masalah lingkungan hidup agar membaik? Maksud kami, apa yang harus dilakukan kita semua?
Ada. Saya menyebutnya “trap culture” atau “jebakan sangkar budaya” — padahal sangkar mempunyai pintu yang bisa dibuka atau ditutup. Tetapi penyelesaian masalah ini bukan saja tanggungjawab Pemerintah dan komunitas, akan tetapi kita semua sebagai individu. Pendapat saya, kita harus mengubah ciri-ciri atau identitas di dalam tempurung kepala kita yang berhubungan dengan “the way you look about”. Istilah ini mencakup perlunya perubahan cara pandang atau sensitivitas terhadap isu-isu global, atau dengan kata lain kita harus adaptif dengan perubahan dunia global, dengan berani membuka jebakan sangkar budaya.
SUNNY BOY BATUBARA adalah Direktur Jangkang Research Institute.














Feel Free to join our discussion