Sinergi Pertanian dan Pariwisata
Oleh SUNNY BOY BATUBARA
Pertanian merupakan spesialisasi kerja yang cukup menarik dibicarakan sampai saat ini. Isu-isu konvensional dan mutakhir yang sering diperbincangkan, misalnya nilai tukar hasil pertanian yang rendah, kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak pada petani, hama, isu pertanian yang dijadikan wacana politik, dan sebagainya.
Namun dalam tulisan ini, isu yang diangkat adalah: bagaimana petani memadukan konsep pertanian dengan pariwisata, sehingga meningkatkan pendapatannya? Fenomena ini terpotret di desa Blimbingsari, Kecamatan Malaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.
Seperti di kebanyakan daerah lain, pertanian di Blimbingsari mengalami beberapa masalah seperti minimnya air dan ditinggalnya desa oleh angkatan kerja kaum muda — sebagai akibat pesona modernisasi kota besar yang menawarkan hedonisme bersistem kapitalistik dan penuh persaingan untuk meningkatkan pendapatan, bukan karena sempitnya lahan kerja di Blimbingsari.
Paralel dengan kedua faktor di atas, seiring dengan berjalannya waktu, sektor pertanian di Blimbingsari pun mengalami pasang-surut. Yang dimaksud dengan pasang-surut di sini adalah dalam hal komoditi pertanian, seperti yang dituturkan salah satu narasumber, Gede Karyane, seorang pengusaha pengepul kelapa yang juga merangkap sebagai petani.
Awalnya banyak petani di Blimbingsari menanam jagung, palawija, dan padi. Tapi karena kesulitan air, maka tahun 1989-an Gede beralih menjual kopra, lalu beralih lagi menjual “kelapa butiran”. Alasannya ada dua. Pertama, harga kopra kalah bersaing dengan kelapa sawit. Sebagai perbandingan, harga kelapa sawit sudah seharga Rp 1.500, sedangkan kopra masih Rp 1.000. Kedua, faktor penjemuran kopra dengan sinar matahari memakan waktu satu minggu. Kalau dengan oven yang memuat 1 ton kelapa, dapat memakan waktu 1-2 hari, sedangkan kelapa sawit dalam jangka waktu 45 hari sudah dapat dipetik.
Namun ada keberhasilan jerih payah para petani di Blimbingsari, meski dua faktor tersebut terus membayangi. Anak-anak mereka dapat menempuh jenjang pendidikan tinggi (universitas) kendati spesialisasi kerja sebagai petani kurang diminati angkatan kerja. Melihat keadaan itu beberapa petani berkumpul guna mencari solusi untuk memadukan pertanian dengan pariwisata. Konsep ini diberlakukan karena berhubungan dengan Bali, dimana pariwisata merupakan pesona yang mendatangkan pendapatan. Sekarang, 450 orang yang berspesialisasi kerja sebagai petani dan buruh tani dapat keuntungan di atas Rp 100 ribu per hari, saat musim liburan.
Adapun konsep pertanian dan pariwisata yang dikembangkan adalah menjadikan rumah mereka sebagai tempat singgah para wisatawan (asing pun domestik), dan menjadikan sawah mereka beserta hasil komoditinya untuk selayang pandang, serta belajar tentang pertanian dengan komoditi coklat dan vanilli. Inilah yang dimaksud dengan memadukan pertanian dengan pariwisata.
SUNNY BOY BATUBARA adalah Direktur Jangkang Research Institute.














Feel Free to join our discussion